Delapan Alasan Paling Tren Milenial dalam Industri Kuliner

NGETRIP.ID, BANDUNG– Era digital erat kaitannya dengan generasi langgas atau milenial. Generasi usia 18-34 tahun itu hidupnya sangat dipengaruhi oleh teknologi digital. Di Indonesia, menurut data tahun 2017, jumlah generasi milenial mencapai 81 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 262 juta orang. Jadi jangan heran jika saat ini digital marketing marak dilakukan oleh para pelaku usaha.

Berikut delapan tren kaum milenial yang berkaitan dengan industri kuliner, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Unilever Food Solutions.

1. Kuliner tanpa batas

Generasi milenial ternyata tak hanya gemar kuliner otentik. Mereka juga terbuka dengan inovasi-inovasi kuliner, seperti fusion atau kombinasi antara dua kuliner atau lebih yang menghasilkan sebuah kreasi makanan baru.

2. Otentik, lokal dan bergaya modern

“Milenial juga bangga dengan selera lokal yang berpotensi untuk mendunia. Ada nation pride-nya tersendiri. Kayak isu kemarin, tentang rendang crispy. Mereka dengan bangga mengatakan bahwa rendang yang punya Indonesia,” ucap Dian.

3. Mencari tempat bergaya santai nan modern

Mereka umumnya juga lebih suka berkumpul dengan kelompok mereka di tempat yang santai dan modern, dibandingkan tempat yang kaku seperti restoran fine dining atau yang kelewat high class seperti lounge. Tentu saja mereka juga lebih memilih tempat kongko yang punya fasilitas wi-fi.

4. Keingintahuan yang tinggi terhadap makanan, lebih dari rasa

Generasi milenial bukan cuma suka kulineran karena mencari cita rasa yang lezat. Mereka juga mencari hal-hal yang menarik dari cerita di balik kuliner tertentu atau hal yang menggugah sensori.

5. Makan apa saja, kapan saja

Ini dilakukan baik itu dengan cara takeaway, delivery atau pun pesan online.

6. Penuh kontrol terhadap apa yang dikonsumsi

Kaum milenial juga tak hanya sekadar mencari makanan enak, tapi mereka juga mencari menu sehat, yang gluten free. Mereka akan berusaha mencari tahu tentang kuliner yang diinginkan, seperti halal atau tidak dan mereka akan membaca kemasan dengan seksama.

7. Mendukung produk dengan visi

Visi misi sosial kini menjadi pertimbangan kaum milenial dalam memilih produk. “Contohnya kedai kopi Amerika yang sekarang mulai memasang iklan karena terusik dengan menu es kopi susu milik sejumlah kedai kopi lokal yang harganya Rp20 ribu. Itu karena kedai kopi lokal menggunakan kopi Indonesia dan produk mereka punya visi,” kata Dian menjelaskan.

8. Offline-online

Sudah menjadi kebiasaan anak milenial untuk meneruskan pengalaman yang didapat secara offline ke online dan sebaliknya.

(sf/viva)