Final Pembatasan Jam Kerja Driver Online Dihapus, Tarif Bawah Masih Tarik Ulur

NGETRIP.ID, JAKARTA--Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) membatalkan rencana untuk membatasi jam kerja ojek online.

Pembatalan pembuatan pasal ini karena banyaknya protes dari para pengemudi ojek online.

Dirjen Perhubungan Darat Kemhub Budi Setiyadi mengatakan, para pengemudi ojek online keberatan dengan rencana pembuatan jam kerja tersebut.

“Para pengemudi tidak mau karena beralasan mereka pun tidak kerja terus-menerus, ada waktu istirahatnya,” ucap Budi dilansir Kontan.co.id, Minggu (24/2/2019).

Sebelumnya Kemenhub merencanakan membuat aturan mengenai jam kerja ojek online.

Rencananya jam kerja ojek online itu akan dibatasi 8 jam dalam 1 hari.

Rancangan aturan tersebut mengatur tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat.

Mereka beralasan aturan tersebut dibuat untuk alasan keselamatan.

“Ini juga merupakan penyeimbangan dan masukan dari Kementrian Tenaga Kerja,” ujarnya.

Budi pun telah mengonfirmasi bahwa rencana pembuatan pasal tersebut saat ini telah dibatalkan.

“Sudah kami hapus pasalnya. Intinya tidak dibatasi waktu dan dibebaskan sesuai dengan kemampuan mereka mengemudi,” katanya.

TARIF BAWAH BELUM DIPUTUSKAN 

Meski direncakan terbit akhir Maret 2019 mendatang, namun hingga kini Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) masih terus menyusun dan melakukan diskusi soal aturan ojek online.

Ada beberapa hal yang masih menjadi fokus masalah, salah satunya soal kesepakatan soal tarif.

Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, masalah penetapan tarif menjadi hal yang paling sensitif dan perlu didiskusikan secara bersama.

“Saya punya patokan sendiri soal tarif, tapi masalahnya ini kan menyangkut banyak pihak, tidak bisa diputuskan dari satu sisi. Idealnya kita bahas bersama antara pihak-pihak yang terkait, baik dari para ojol dan juga aplikatornya,” kata Budi seperti di lansir Kompas.com, Jumat (22/2/2019).

Budi menjelaskan, bila masalah tarif tentunya masing-masing akan memiliki perhitungan sendiri, baik aplikator, para ojol, dan juga dari pihak Kemenhub.

Agar terjadi kesepatakan yang ideal, maka diperlukan langkah diskusi bersama antar para pemangku kepentingan yang terkait.

Sampai saat ini, Budi menjelaskan, pemerintah juga belum memutuskan besaran tarif batas bawah dan atas yang akan diperbincangan.

Tapi Budi memastikan bila tarif ojek daring harus berada di bawah taksi online yang kini kisarannya sekitar Rp 3.500 sampai Rp 6.500 per kilometer.

 “Yang jelas harus dibicarakan dulu, kalau saya sebut berapa saat ini namun tidak diterima aplikator atau ojolnya akan susah mendapat kesepakatan. Kita diskusikan lagi lalu kita sepakati bersama,” kata Budi. (sf/kmps/trbn)