Ini Soal Rejeki

Setelah menulis lebih 3000 episode Tukang Bubur Naik Haji–di rumah produksi Sinemart untuk RCTI–saya nganggur total selama lebih 4 bulan. Gerah di rumah berdiam diri, di pengujung 2017 itu saya mencicipi pengalaman hidup menjadi driver ojek online. Karena sering menyendiri sambil menunggu panggilan penumpang, tangan saya terus menulis melalui note di hape. Ini salah satunya:

Setelah 3 minggu “ngaspal” menjadi driver ojol, yang paling terasa buatku adalah memaknai apa yang disebut rejeki. (Cie, obrolan serius nih).

Ya, rejeki. Sebagian besar teman ojol percaya, bahwa “hot point” atau titik panas dalam aplikasi yang dimiliki driver, yang ditandai dengan warna-warna tertentu di peta aplikasi menunjukkan kalau di sanalah berhamburan calon penumpang. Makanya, bak ikan mas yang kedatangan pemilik empang, di sanalah driver berkumpul berharap mendapat lemparan calon penumpang. Ini sebabnya kampus, sekolah, stasiun, terminal, mall, maupun gedung perkantoran ramai ditongkrongi para ojol. Hal yang justru paradoks dengan tagline profesi ini, “bisa bekerja alias menunggu penumpang di rumah”.

Mulanya aku mengekor juga teman-teman yang ngetem di tempat-tempat yang kusebutkan tadi. Tapi peluang mendapatkan penumpang justru sering kudapat ketika berada di tempat yang sepi atau ketika kendaraan bergerak. Secara algoritma, peluang memanfaatkan hot point ada benarnya. Tapi menurut pengalamanku, justru faktor T (Tuhan) jauh lebih menentukan dan pasti. Tidak percaya? Begini…

Driver ojol hanya memiliki waktu kurang dari 20 detik untuk accept job atau menekan tanda menerima order. Nah, perangkat ini, kadang abai diperhatikan oleh driver. Bisa saja karena terlalu asyik ngobrol soal bola tadi malam, atau sedang memikirkan kenalan baru Si Tumi, asisten rumah tangga di Pondok Indah yang belum pulang-pulang usai lebaran. Sama seperti saat kita terlalu konsen pada apa yang hendak kita ucapkan pada pacar bila bersua, kita lalai kalau kaki sudah berada di comberan. Kejadian sekian detik semacam ini seringkali terjadi ketika berhadapan dengan tools aplikasi yang harus cepat ditanggapi oleh driver. Jadi, meskipun kalian berada di titik panas, yang calon penumpangnya keluar dari gerbong kereta ratusan, belum tentu satu diantara mereka adalah penumpang kalian. Faktor seperti itulah yang membuatku mengurangi bahkan memilih tidak ngetem bersama komunitas ojol di depan-depan mall atau kampus. Aku lebih memilih teras masjid untuk merebahkan diri tidur, atau lobi rumah sakit untuk menyejukkan diri dan bangku nasabah depan kasir bank untuk menyesap secangkir kopi gratis.

Lantas, apakah kerja keras menentukan rejeki kita? Pengalamanku mengatakan, ada benarnya juga. Doa dan ketekunanlah yang membuat rejeki itu mengalir secara tidak terduga. Adagiumku, Tuhan juga pasti tak tega membiarkan kerja keras hambanya tanpa Dia memberi imbalan apa-apa. Pengalamanku menulis 2 program striping sinetron sekaligus dalam sehari, justru membuatku bugar karena enzim bahagia terus mengalir di darahku. Selain tentu saja honornya yang fantastis. Bayangkan, aku bisa mendapatkan penghasilan 3 juta dalam 24 jam!

Nah, saat menganggur justru sering muncul penyakit; badan pegal-pegal, mudah pusing, kadang stress. Yang paling parah, penyakit malas diam-diam menggerogotinya. Makanya, ketika ada kesempatan untuk mengajar, walaupun tanpa gaji, pekerjaan itu saya tekuni. Supaya segala penyakit itu hengkang.

Kembali ke soal rejeki ojol tadi, kalau orderan sepi saya kerap beredar. Itung-itung belajar. Bukankah pepatah ojol mengatakan: jalan terbentang adalah ilmu. 🙂 Nah, rupanya ”titik panah” penumpang ojol itu juga muncul saat si driver sering beredar. Makanya jangan heran kalau ada driver yang kita tumpangi sebelumnya berasal dari titik yang jauh.

Saya jadi ingat di kala kanak-kanak, kalau tidak ada uang jajan saya akan beredar di pasar. Dengan mata terus menunduk ke bawah dan satu keyakinan menemukan uang di jalan. Dan sama dengan keyakinan itu, saya beredar terus sambil menunggu panggilan penumpang. Kalaupun tak ada, saya menawarkan diri pada orang yang terlihat akan bepergian. Gratis. Dan berharap memdapat rejeki seorang teman atau kenalan. Tapi tawaran ini seringkali pula ditolak. Lantas, di mana rejeki itu? Di tempat dimana kamu merasa bahagia.

#nulisdisaatngetem

Joni Faisal