Lembang-Padalarang Masuk Zona Merah Peredaran Narkotika di KBB

332

NGETRIP. ID, Ngamprah– Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bandung Barat memetakan ada empat zona merah penyalahgunaan dan peredaran narkotika di KBB. Hingga Triwulan 3, BNNK Bandung Barat sudah terjadi 48 kasus penyalahgunaan narkotika.

Keempat zona merah penyalahgunaan narkotika di KBB, yakni Lembang, Padalarang, Ngamprah, dan Cililin.

Kepala BNNK Bandung Barat, Sam Norati Martiana mengatakan, 48 kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba tersebut merupakan kasus yang ditangani BNN dan Polres Cimahi. Sementara kasus penyalahgunaan narkotika yang ditanganinya hanya lima kasus.

“Berdasar data paling banyak  di Padalarang dan Ngamprah. Namun, sebetulnya untuk peredarannya itu, karena kami melakukan penangkapan lima kasus yang semuanya di Lembang, kami anggap Lembang cukup rawan,” katanya, Kamis (4/10/2018).

Penyalahgunaan dan peredaran narkotika tersebut didominasi oleh ganja dan sabu. Adapun pil berjenis obat-obatan keras peredarannya merata di seluruh kecamatan di KBB. Makanya, BNN menggiatkan pengembangan kapasitas pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN) di lingkungan instansi pemerintah dan komponen masyarakat.

Sementara dari angka prevalensi dari penelitian Universitas Indonesia, di tingkat pusat itu 1,7 persen. Namun, di sini 1,8 persen. Jadi, Jawa Barat itu prevalensinya lebih tinggi daripada di pusat. Kalau Bandung Barat itu penduduknya 1,6 juta jiwa, angka prevelensinya 1,77 persen, jadi diperkirakan pecandu narkoba di Bandung Barat itu sekitar 30.000 orang.

Kalau dipersentasekan, lanjutnya, sekitar 50 persen pencandu narkoba di KBB adalah pekerja, 27 persen merupakan pelajar, dan 23 persen sisanya masyarakat umum. Kalau dulu pengguna laki-laki itu sangat dominan, kini sekarang ini jumlah pengguna laki-laki dan perempuan hampir sama.

“Ini dari kasus kami saja, dari 14 orang yang kami tangkap, lima orang di antaranya perempuan. Jadi, antara laki-laki dan perempuan itu sekarang ini hampir berimbang, walaupun tetap masih banyak laki-laki. Yang terakhir itu malah suami isteri terjerat kasus sabu,” ujarnya.

Dari berbagai kasus narkoba yabg terungkap, banyak terjadi pengguna narkoba juga ikut menjadi pengedar. Oleh karena itu, BNN melakukan assessment terhadap para korban yang terjerat kasus narkoba. Apabila dari hasil assessment korban dinyatakan sebagai pengguna narkoba, maka langkah berikutnya ialah dilakukan rehabilitasi.

“Assessment itu untuk yang mereka kena kasus narkotika, supaya tahu posisi dia di mana. Apakah dia pengguna, pengedar, atau bandar. Jadi, kami lakukan assesment,” katanya.

Saat ini BNN KBB cuma memiliki jatah untuk melakukan assessment terhadap 20 orang, namun semua bisa ditambah sesuai dengan kebutuhan, dan pihaknya bisa mengajukan ke provinsi. (ismalia)