Lima Pelaku Anak Pengeroyok Jakmania Dituntut 3 Hingga 5 Tahun

Foto: Ismalia

NGETRIP.ID, Bandung– Setelah sempat mengalami penundaan, persidangan lima terdakwa pengeroyokan Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta yang tewas di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, kembali digelar di Pengadilan Negeri Kelas 1A Khusus Bandung, Jumat (2/11/2018). 

Sidang yang berlangsung secara tertutup dan dipimpin hakim tunggal, Suwanto, beragendakan pembacaan tuntutan bagi kelima terdakwa oleh jaksa penuntut umum. Kelima terdakwa, yakni SH, AR, TD, AF, dan NJ, dituntut berbeda oleh jaksa. 

Dalam berkas yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Bandung, Melur Kimaharandika, SH dan AR dituntut 5 tahun penjara, TD (4 tahun), AF (3,5 tahun), dan NJ (3 tahun). 

Usai persidangan, Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Bandung Agus Khausal Alam menerangkan, karena para terdakwa masih dibawah umur dan berstatus pelajar, maka tuntutan yang diberikan setengah dari hukuman orang dewasa.  

“Hal yang memberatkan, ada terdakwa yang melakukan penendangan dan penginjakan terhadap kepala. Karena berdasarkan visum, yang menyebabkan korban meninggal adalah patah tulang dan rusaknya otak,” ungkap Alam. 

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Dadang Sukmawijaya mengaku kecewa dengan tuntutan yang diberikan jaksa kepada kliennya. Pasalnya, penuntut umum nyaris memberikan hukuman yang maksimal kepada para terdakwa. Terlebih, anak-anak ini bukanlah pelaku utama, tapi hanya ikut-ikutan, sehingga Pasal 170 KUHP yang dikenakan dinilai dirinya tidak tepat.  

“Melihat tuntutan ini hampir maksimal, kami kecewa dan berkeberatan. Karena apa yang dilakukan anak-anak ini indikasinya hanya ikut-ikutan, bukan sebagai pelaku utama, hanya pelaku penyerta. Dan, Pasal 170 KUHP hanya pelaku utama, harusnya Pasal 55 KUHP disertakan, tapi ternyata tidak ada,” beber Dadang.  

Menurutnya, apa yang dilakukan kelima terdakwa merupakan perbuatan yang spontan dan terbawa emosi massa. Maka itu, pihaknya berpandangan, anak-anak ini harus dibimbing ke arah yang lebih baik. Dan, hal itu akan disampaikan dalam pledoi atau nota pembelaan yang dibacakan pada persidangan Senin (5/11/2018). 

“Keinginan kuasa hukum, karena ada rekomendasi dari Bapas (Balai Pemasyarakatan), yang sifatnya bukan asal-asalan, tapi hasil pengujian dan penelitian, dan anak itu harus diserahkan ke keluarga, dibina di masjid, mengikuti pengajian, harus ikut bersih-bersih pada Minggu diberikan pengawasan oleh DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Dan, karena anak-anak ini masih sekolah, harus diarahkan juga dikembalikan ke sekolah. Itu harapan dari kami,” tandas Dadang. (ismalia)