Survei UI, Transportasi Online Sumbang Rp2,1 Triliun untuk Ekonomi Bandung

155
Ilustrasi/Net

NGETRIP.ID, Bandung – Transportasi online yang telah hadir beberapa tahun ke belakang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian di sejumlah kota, tak terkecuali di Bandung.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) mengungkapkan transportasi online dengan sample Go-Jek telah memberikan kontribusi sebesar Rp2,1 triliun bagi perekonomian Bandung tahun 2018. Khusus layanan Go-Ride saja kontribusinya sebesar Rp537 miliar dan Go-Car menyumbang Rp111 miliar.

Wakil Kepala LD FEB UI, Paksi C.K Walandouw menuturkan, kontribusi ratusan miliar rupiah dari ojek dan taksi online Go-Jek tersebut didapatkan melalui hasil perhitungan penghasilan mereka yang dibandingkan ketika sebelum dan sesudah bekerja sebagai pengemudi transportasi online.

“Kontribusi yang semakin besar dari Go-Jek menumbuhkan bahwa teknologi mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi khususnya ke perekonomian daerah,” ujar Paksi di Bandung, Selasa (25/6/2019).

Dalam penelitian tersebut juga disebutkan bahwa setelah menjadi driver transportasi online, penghasilan mitra Go-Ride meningkat 24% dan Go-Car meningkat 13%. Bahkan, penghasilan mereka di atas rata-rata Upah Minimal Kota (UMK) Bandung pada 2018.

“Penghasilan rata-rata mitra Go-Ride di Bandung sebesar Rp3,4 juta dan Go-Car Rp4,8 juta, sementara UMK Bandung 2018 adalah Rp3,1 juta,” ucapnya.

Paksi mengatakan, lebih dari 80% pengemudi transportasi online di Bandung itu mengaku bekerja sebagai mitra Go-Jek karena fleksibilitas waktu yaitu bisa mengatur waktu kerja sebebasnya.

Go-jek juga ternyata mampu menjawab kesulitan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang berpendidikan tingkat SMA ke bawah. Dibuktikan dengan hasil 86% mitra Go-Ride yang disurvei merupakan lulusan di bawah SMA, sementara Go-Car 62%.

“Adapun untuk jenis pekerjaan, 41 persen mitra Go-Ride sebelumya bekerja sebagai pegawai swasta dan untuk Go-Car berada di angka 44 persen yang dulunya bekerja sebagai karyawan swasta,” imbuhnya.

Selain itu, kontribusi mitra UMKM Go-Food di Kota Bandung juga berkontribusi Rp 1,5 triliun pada 2018. Berdasarkan hasil penelitian, setelah bergabung Go-Food, mitra UMKM mengalami kenaikan omzet 21 persen atau sekitar 5,3 juta/bulan dan 76% UMKM alami kenaikan volume transaksi.

Begitu juga dengan layanan Go-Life yang membuka akses penghasilan kepada perempuan serta masyarakat lulusan SMA ke bawah. Go-Life juga meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi digital yakni sekitar 94% memiliki tanggungan. “Layanan Go-Jek yaitu mitra Go-Life memberikan kontribusi Rp46 miliar ke Kota Bandung,” ungkapnya.

Maka dari itu, Paksi berharap seluruh stakeholder termasuk Pemerintah Kota Bandung mampu melindungi dan menjaga kesinambungan dari kontribusi besar bidang usaha berbasis digital ini. Sebab kontribusi tidak akan terjadi jika tidak didukung oleh semua elemen mulai dari mitra, konsumen hingga pemerintah.

“Salah satu implikasi penelitian ini, kita ingin berikan informasi kepada stakeholder untuk melihat kontribusi ini sebagai suatu yang harus dilindungi dan dijaga kesinambungannya. Jadi kontribusi dijaga bukan hanya dijaga satu pihak, tapi komunitas, ngga cuma konsumen tapi mitra dan stakeholder lain,” pungkasnya.

Riset dilakukan di beberapa wilayah Indonesia termasuk Bandung (November 2018-Januari 2019) dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka. Responden adalah mitra aktif dalam tiga bulan terakhir.

Jumlah responden di Bandung totalnya 618 orang dengan rincian Go-Ride 385 responden, Go-Car 80 responden, UMKM Go-Food 100 responden dan Go-Life 80 responden. Sampel penelitian mewakili populasi mitra pengemudi dengan tingkat keyakinan 95%. (Sumber: Pindainews.com)