Tak Semua Ojol Menolak, Komunitas Ini Bangga Nadiem Jadi Menteri

109
Foto: Gridoto.com

NGETRIP.ID, JakartaPemanggilan founder dan mantan CEO Gojek Nadiem Makariem ke Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin kemarin menyisakan sejumlah perkara. Pemanggilan tersebut disinyalir merupakan pertanda bahwa Nadiem akan diangkat menjadi menteri di Kabinet Kerja periode 2019-2024.

Pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) rupanya tak setuju bila bos besar mereka dijadikan menteri oleh Jokowi. Asosiasi bahkan mengancam bakal mengerahkan massa dalam jumlah besar bila Nadiem Makarim menerima ajakan Jokowi.

“Ojol tidak setuju apabila Nadiem jadi salah satu menterinya Jokowi. Akan ada pergerakan seluruh Indonesia sebagai penolakan,” seru Ketua Presidium Nasional Garda Igun Wicaksono

Seperti di lansir dari Liputan6.com Menyikapi hal tersebut, tim komunikasi Gojek lantas membuat sebuah pernyataan tertulis tertanggal 21 Oktober 2019 yang diberikan kepada Liputan6.com. Statemen tersebut merupakan atribusi dari VP Corporate Affairs Gojek, Michael Reza Say.

“Gojek selalu terbuka menerima setiap masukan dari mitra driver kami. Gojek juga telah menyediakan forum komunikasi rutin di semua area operasional kami,” tulisnya dalam surat tersebut, seperti dikutip Selasa (22/10/2019).

Disebutkan bahwa pihak Gojek merasa gembira dan bangga bahwa Nadiem Makarim telah dipanggil oleh Jokowi untuk menjadi salah satu angota kabinet yang baru.

“Kami juga senang telah menerima berbagai dukungan dari mayoritas mitra driver yang disampaikan di media sosial serta pesan-pesan dukungan masyarakat pada umumnya,” ucapnya.

Adapun bentuk dukungan kepada Nadiem diberikan Ketua Forum Komunitas Driver Online Indonesia (FKDOI) Cang Rahman. Dia mengatakan, secara pribadi dan komunitas telah merasa bangga ada bagian dari keluarga besar transportasi online yang dipanggil Presiden ke Istana.

“Kita pro Pak Nadiem jika jadi menteri di kabinet Jokowi dan Ma’ruf Amin. Sosok yang bisa diperhitungkan dalam membangun Indonesia ke depan,” ungkapnya.

Rahman sekaligus membantah anggapan bahwa mitra ojol tidak sejahtera. Menurut dia, bicara hal tersebut sangat subjektif dan banyak faktor. “Masalah kesejahteraan ojol itu tergantung sudut pandang masing-masing. Yang sangat bersyukur juga banyak, kok,” tuturnya.

Bagi Rahman, menjadi mitra ojol dengan konsep kerja sama saat ini mendidiknya menjadi seorang entrepreneur. “Kenapa kita bilang entrepreneur? Karena kami mitra lo, bukan pegawai. Bukan karyawan. Kami bekerja atas kemampuan kita sendiri,” paparnya. (lpnt6)